Deep Breathing, cara bernafas lebih baik

04 May 2017

Kalau kita sering cemas dan panik, bisa jadi karena kita kurang bernafas dengan baik. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan deep breathing.

 

 

 

Richard P. Brown, M.D, penulis buku The Healing Power of the Breath memperkenalkan cara bernafas yang baik, yaitu dengan teknik deep breathing. Cara ini penting banget untuk menghindari kita dari rasa panik dan cemas. Lebih jauh lagi, deep breathing ini bisa dibagi ke dalam tiga golongan.

 

coherent breathing

Dalam bernapas, ada istilah heart rate variability (HRV) atau jumlah tarikan dan helaan napas setiap menit. Mungkin selama ini kita enggak pernah peduli berapa kali menarik dan menghela napas, tapi dengan menghitung HRV ini, kita bisa tahu apakah cara bernapas yang selama ini kita lakukan sudah benar apa belum. Normalnya, dalam satu menit kita menarik dan menghela napas sebanyak lima kali. Kita harus berhati-hati nih, girls, kalo jumlah HRV-nya rendah. Soalnya, berpengaruh ke kesehatan jantung. Plus, HRV yang tinggi juga berpengaruh terhadap pola kerja otak dalam merespon stres akibat rasa panik atau cemas.Akibatnya, ada banyak ruang bagi otak untuk berpikir dan mengurangi dorongan emosi dalam keadaan tertekan seperti ini.

 

resistance breathing

Hal kedua yang harus diperhatikan dalam deep breathing adalah resistance breathing. Menurut Richard P. Brown, bernapas yang baik adalah melalui hidung, ketimbang melalui mulut. Karena akan menimbulkan perasaan santai seperti yang kita rasakan setiap kali bermeditasi.

 

Tapi, sesekali enggak ada salahnya melakukan teknik lain yang bertolak belakang dengan apa yang selama ini dianjurkan, yaitu bernapas melalui hidung. Tujuannya untuk melatih otot-otot yang digunakan dalam proses respirasi. Hal ini juga menghindarkan kita dari gangguan pernapasan. Plus, meningkatkan ketahanan tubuh.

 

Caranya gampang banget, girls. Kita bisa mengerucutkan bibir dan menghembuskan napas melalui mulut atau menempatkan ujung lidah di bagian dalam gigi bagian atas lalu mengatupkan gigi dan menghembuskan napas melalui sela-sela gigi yang terkatup. Kita juga bisa menutup hidung dan membiarkan napas keluar melalui mulut. Ternyata, para atlet sering mendapat pelatihan ini, lho, sebelum bertanding. Enggak heran jika mereka selalu merasa fit.

 

breath moving

Nah, kalau ini bernapas dengan menggunakan imajinasi, girls. Richard P. Brown mengumpamakan udara yang kita hirup serupa pesan yang dialirkan ke dalam tubuh dengan tujuan adalah mencapai otak serta sistem lain di dalam tubuh. Ketika bernapas, kita bisa membayangkan udara tersebut mengalir melalui pembuluh darah ke seluruh bagian tubuh. Cara ini akan membantu kita untuk lebih berkonsentrasi, girls.

 

Ketika menarik napas, bayangkan udara tersebut mengalir ke bagian atas tubuh hingga mencapai otak. Dan, ketika menghembuskannya, bayangkan udara tersebuk pindah ke bagian bawah dan belakang tubuh. Agar lebih terasa, lakukan hal ini selama sepuluh kali berturut-turut.